Showing posts with label Ilmu Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Komunikasi. Show all posts

Wednesday, June 13, 2012

Facebook


BAB I
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam kesempatan manusia membutuhkan orang lain sebagai patner hidupnya. Begitulah dalam hal interaksi kehidupan. Mutlak diperlukan seseorang teman atau patner yang menjadi tempat seseorang bercerita membuka diri dalam rangka menyelesaikan permasalahan-permasalahan kehidupan yang datang.
Menurut Dedy Mulyana, Self Disclosure adalah membeberkan informasi tentang diri sendiri. Banyak sekali yang kita ungkapkan tentang diri kita melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, pakaian, nada suara dan melalui isyarat – isyarat nonverbal lainnya yang tidak terhitung jumlahnya, meskipun banyak di antara perilaku tersebut tidak disengaja. Namun, “penyikapan diri” yang kita pakai di sini merupakan perilaku yang disengaja .
Self Disclosure merupakan suatu usaha untuk membiarkan keotentikan memasuki hubungan sosial kita, dan kini kita mengetahui bahwa hal ini berkaitan dengan kesehatan mental. Dari definisi diatas, penulis dapat menyimpulkan pengertian Self Disclosure adalah suatu cara yang paling efektif untuk mengungkapan tentang diri kita kepada orang lain melalui ekspresi wajah, siakp tubuh, pakaian, nada suara dan melalui isyarat – isyarat nonverbal lainnya yang tidak terhitung jumlahnya, dan perilaku ini adalah perilaku yang disengaja.
Era revolusi media saat ini, banyak terjadi pergeseran pada proses sosial seperti self disclosure. Pergeseran ini diakibatkan oleh pengaruh perkembangan media yang sangat besar. Media menjadi fakor penting dalam kehidupan yang patut dipertimbangkan. Hampir setiap tahun, selalu muncul media baru yang sontak menjadi trend dimasyarakat.
Kehadiran media sosial seperti facebook memperbanyak jumlah kajian media yang ada. Facebook sudah menjadi trend hidup masyarakat diseluruh dunia. Mulai dari kota hingga ke desa facebook hadir menemani remaja hingga orang tua. Banyak masyarakat yang menghabiskan banyak waktu saat membuka facebook. Banyak interaksi yang terjadi dalam facebook. Orang setiap hari mencurahkan isi hatinya melalui facebook. Hingga tak heran muncul sebuah pertanyaan besar, sejauh mana efektifitas facebook terhadap proses self disclosure?
Penulis ingin menilai sejauh mana keektifitas media sosial facebook dalam proses self disclosure. Dan penulis akan menggunakan model teori self disclosure pada jenis komunikasi antar personal. Menurut penulis teori komunikasi interpersonal menjadi menarik untuk di kaji. Ditambah lagi saat aspek-aspek interpersonal itu saat ini telah banyak bersentuhan dengan berbagai media kekinian. Jika dulu kajian interspersonal sempit, maka saat ini kajiannya sangatlah luas. Oleh itu, penulis merasa tertantan untuk menggunakan jenis teori komunikasi interpersonal sebagai teori pilahan dalam makalah ini.  


BAB II
Landasan Teori
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah kuisioner dan kajian pustaka. Kuisioner disebarkan kepada koresponden secara random  atau acak sebanyak 10 jiwa, yang merupakan Mahasiswa Universitas Paramadina (terlampir). Penyebaran kuisioner penulis lakukan dengan membagikannya secara langsung kepada para responden.
                Tabel dibawah ini akan menunjukkan intensitas responden membuka facebook setiap harinya,
Tabel I
Intensitas membuka Facebook setiap hari
Intensitas membuka Facebook setiap hari
Total Jawaban responden
Sering
8 Responden
Jarang
Tidak Pernah
2 Responden
0
Menurut data diatas hampir seluruh(80%) responden termaksud dalam katagori sering membuka facebook setiap harinya. 20% responden diatas termaksud dalam katagori yang jarang mengakses facebook setiap harinya. Dan tidak ada seorangpun responden yang tidak pernah membuka facebook. Dari data yang sederhana diatas menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini merupakan orang yang sering membuka facebook.
            Selanjutnya penulis akan memperlihatkan data tentang aktifitas umum yang biasa orang lakukan saat membuka facebook. Berikut beberapa data aktifitas itu,
Tabel II
Yang sering dilakukan saat membuka Facebook
Yang sering dilakukan saat membuka Facebook
Total Jawaban responden
Update status
1 Responden
Chatting dengan teman Facebook
Sekedar melihat informasi penting
0
9 Responden
Dari data diatas dapat terlihat ada 10% responden yang lebih sering membuka facebook untuk mengupdate status. Dan sisanya terdapat 90% responden yang membuka facebook hanya untuk sekedar melihat informasi-informasi penting tentang dunia.
            Berikut adalah data tentang intensitas responden mengupdate status setiap harinya,
Tabel III
Intensitas mengupdate status setiap hari
Intensitas mengupdate status setiap hari
Total Jawaban responden
1 kali
8 Responden
1-3 kali
Diatas 3 kali
0
1 Responden
Data diatas memperlihatkan bahwa ada sekitar 80% persen responden yang mengupdate status setidaknya 1 kali setiap harinya. Ada 10 % yang mengupdate status hingga lebih dari 3 kali setiap harinya. Sedangkan sisa 10% persennya mengupdate status tidak rutin setiap harinya.
Waktu/moment update status berbeda pada setiap orangnya. Ada yang mengupdate status saat senang, sedih, dan dalam perasaan-perasaan lain yang tidak dapat ditebak. Data berikut menunjukkan saat perasaan seperti apa responden akan mengupdate status,
Tabel IV
Mengupdate status saat perasaan senang
Mengupdate status saat perasaan senang
Total Jawaban responden
Setuju
1 Responden
Ragu-ragu
Tidak Setuju
3 Responden
6 Responden
Dari data diatas terdapat 10% responden yang akan mengupdate status saat perasaan senang menghampirinya. Seperti saat ia baru saja mendapatkan hadiah dari orang tua, teman, atau sekedar bahagia karena hal-hal lain. 30% responden lain mengaku ragu-ragu menjawab akan mengupdate status saat bahagia. Dasar yang dapat dijadikan alasan adalah, tidak selalu saat kegembiraan meski update status. Dan jawaban responden yang mencapai 60% adalah mereka yang merasa tidak mengupdate status saat senang. Kelompok ini justru mengupdate tidak terpengaruh oleh perasaan.
Tabel V
Mengupdate status saat perasaan sedih
Mengupdate status saat perasaan sedih
Total Jawaban responden
Setuju
 0
Ragu-ragu
Tidak setuju
5 Responden
5 Responden
Jika tabel sebelumnya responden yang mengupdate status saat perasaan kini saat sedih. Data diatas menunjukkan bahwa tidak ada responden yang mengupdate status saat perasaan mereka sedang sedih. Terdapat 50% responden yang menjawab ragu-ragu, itu artiya mereka merasa tidak selalu saat sedih mereka mengupdate status. Dan sebanyak 50% responden lainnya tidak mengupdate status saat sedih.
Tabel VI
Mengupdate status saat perasaan tak menentu
Mengupdate status saat perasaan tak menentu
Total Jawaban responden
Setuju
2 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
2 Responden
6 Responden
Dari data diatas terdapat 20% responden yang mengatakan mengupdate status saat perasaan tak menentu. 20% selanjutnya menjawab ragu-ragu artinya mereka tidak selalu mengupdate status saat perasaan tak menentu. Dan lebih dari setengah responden yaitu 60% tidak mengupdate status saat mengalami perasaan tak menentu(galau).
Selanjutnya akan penulis tampilkan data tentang responden yang menjadikan facebook sebagai media tempat berkeluh kesah,
Tabel VII
Facebook menjadi tempat berkeluh kesah
Facebook menjadi tempat berkeluh kesah
Total Jawaban responden
Setuju
2 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
2 Responden
6 Responden
Data diatas sama persis dengan data pada tabel sebelumnya. Terdapat 20% responden menjadi salah satu tempat untuk berkeluh kesah. 20% responden menjawab ragu-ragu dan tidak begitu menjadikan facebook menjadi tempat berkeluh kesah. Dan lebih dari setegah dari responden yang tidak menganggap facebook sebagai tempat berkeluh kesah. Mereka hanya beranggapan facebook sebagai media informasi dan mencari teman sebatas hubungan pada tahap cultural.
            Berikut adalah data tentang responden yang akan lebih terbuka saat mengupdate status di facebook dibandingkan dengan keluarga,
Tabel VIII
Lebih terbuka saat update status dibandinkan dengan keluarga
Lebih terbuka saat update status dibandinkan dengan keluarga
Total Jawaban responden
Setuju
1 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
3 Responden
6 Responden
Dari data diatas diketahui bahwa ada setidaknya 10% responden yang lebih terbuka saat mengupdate status dibandingkan dengan keluarga. 30% responden menjawab ragu-ragu itu artinya mereka beranggapan bahwa ada kondisi tertentu dimana mereka akan lebih terbuka dengan keluarga atau lebih terbuka saat membuat status facebook. Dan sekitar 60% responden tidak setuju dan masih dapat lebih terbuka dengan keluarga dibandingkan di status facebook.
            Untuk lebih mengurucut pada permasalahan, berikut akan penulis sajikan data tentang perasaan yang responden rasakan setelah mengupdate status di facebook,
Tabel IX
Perasaan lega setelah mengupdate status
Perasaan lega setelah mengupdate status
Total Jawaban responden
Setuju
3 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
2 Responden
5 Responden

30% dari responden merasa sangat lega setelah menupdate status di facebook. 20% diantara responden menjawab ragu-ragu dan tidak selalu merasa lega setelah mengupdate status facebook. Dan setengah dari total responden tidak setuju dengan penyataan karena rata-rata  perasaan mereka biasa saja setelah mengupdate status di facebook. Hal yang sperti ini sangat wajar bagi orang yang tidak gemar mengupdate status dalam perasaan tertentu, misalnya sedih.
            Sebagai penekanaa terhadap data-data sebelumnya berikut penulis sampaikan data tentang perasan responden yang lebih nyaman berkeluh kesah difacebook dibandingkan dengan teman sendiri,
Tabel X
Lebih nyaman berkeluh kesah di facebook dibanding dengan teman
Lebih nyaman berkeluh kesah di facebook dibanding dengan teman
Total Jawaban responden
Setuju
1 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
2 Responden
7 Responden
Dari data terakhir diatas terlihat bahwa hanya 10% responden yang lebih nyaman berkeluh kesah di facebook dibanding dengan temannya. 20% diantara responden menjawab ragu-ragu, dan 70% lainnya merasa lebih nyaman berkeluh kesah dengan teman dibandingkan dengan facebook, baik dalam membuat status maupun melalui chat.




BAB III
Pembahasan
Menurut data yang ada, hampir semua responden sering mengupdate facebook setiap harinya. Hanya beberapa diantara mereka yang tidak terlalu sering. Tapi pada intinya semua responden merupakan orang-orang yang tergolong akrab dengan nama facebook. Hampir seluruh responden mengaku membuka facebook untuk mengetahui berita-berita penting. Akan tetapi ada diantara mereka membuka facebook untuk mengupdate status.
Dalam hal menggunaka facebook untuk mengupdate status, sebagian besar responden mengaku mengupate staus facebook setidaknya 1 kali setiap harinya. Ada juga yang tingkat update statusnya yang diatas 3 kali setiap harinya. Selain itu ada yang perharinya sama sekali tidak pernah mengupdate status. Setelah penulis melakukan wawancara tambahan, ternyata responden tersebut mengupdate status tidak perhari, tetapi sangat jarang sekali.
Kecenderungan mengupdate statusnya berbeda di setiap individu. Ada yang mengupdate status saat perasaan senang, saat perasaan tak menentu. Dan dalam berbagai kesempatan juga ada responden yang mengupdate status disaat sedih. Meskipun tidak semua moment sedih, senang, tak menentu akan digunakan untuk mengupdate status. Akan tetapi terdapat kecenderungan mengupdate status pada saat tertentu.
Tidak banyak responden yang mengganggap facebook menjadi media tempat berkeluh kesah. Para responden lebih menganggap facebook sebagai media yang tempat mengutarakan isi hati seadanya. Banyak responden yang tidak setuju dengan facebook mereka lebih terbuka dibandingkan dengan keluarga. Bertolak belakang dengan itu, ada responden yang justru berpikir sebaliknya. Dia akan lebih terbuka kepada facebook dibandingkan kepada anggota keluarganya yang lain. Setelah penulis melakukan wawancara tambahan, penulis berkesimpulan bahwa orang yang lebih terbuka dengan facebook nyatanya sedang mengalami permasalahan tertentu dengan keluarganya. Sehingga facebook dijadikan tempat untuk mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan.
Beberapa responden merasa lebih lega setelah mengupdate status di facebook. Beberapa lainnya mengganggap tidak ada perasaan lebih setelah mengupdate status. Hal ini tergantung pada status yang di tuliskan. Lega atau tidaknya tergantung pada apa yang dituliskan. Apabila ia menuliskan sesuatu yang dipendam, maka perasaannya akan lega. Namun, sebaliknya jika statusnya hanya tentang informasi sederhana( Misalnya keberadaan, atau kegiatannya saat itu) maka tidak berpengaruh sama sekali terhadap responden.
Secara umum tidak ada responden yang lebih nyaman berkeluh kesah di facebook dibandingkan dengan teman. Hampir semua responden masih menganggap bahwa teman masih menjadi teman yang sesuai untuk dijadikan tempat berkeluh kesah. Namun, ada diantara responden yang merasa lebih nyaman di facebook dibanding dengan temannya. Karena dia merasa di facebook akan lebih banyak yang dapat memberikan masukan atas permasalahan yang dia alami. Tentunya ini berbeda tergantung tingkat kenyamanan masing-masing individu. Ada yang nyaman saat bercerita dengan dengan teman dekatnya dan ada yang memilih facebook sebagai teman berkeluh kesah yang nyaman.
Saat ini belum banyak penelitian yang fokus mengkaji sejauh mana facebook dalam proses self disclosure. Sehingga, belum ada ahli yang mempunyai teori ilmiah tentan hubungan facebook dengan self disclosure ini. Dalam hal ini facebook hanya menjadi sebuah media peratara diantara kedua orang yang terlibat proses komunikasi interpersonal. Sejauh mana efektifannya lebih kepada individu itu sendiri dalam berkomunikasi melalui facebook.
Meskipun menggunakan media facebook artinya tidak terjadi kontak fisik secara langsung namun dalam prosesnya tetap self-disclosure ini harus bersifat timbal balik(Griffin, 2003 :135). Artinya keterbukaan seseorang di facebook harus juga diimbangi oleh keterbukaan temannya yang ada di facebook. Jika tidak maka proses self disclosure yang terjadi juga tidak akan efektif dalam suatu hubungan interpersonal di facebook.
Proses self disclosure dengan menggunakan media apapun sangat memerlukan kepercayaan diantara pelakunya. Jika salah seorang tidak saling percaya kepada yang lainya, maka proses self disclosurenya tidak akan berjalan efektif.
Dari penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulakn bahwa facebook telah menjadi media komunikasi yang sangat dikenal saat ini. Hampir semua orang di planet ini mengenal facebook. Masyarakat menggunakan facebook untuk kepentingan yang berbeda-beda. Dan terdapat batasan-batasan tertentu dalam proses menggunakan facebook sebagai media komunikasi. Ada yang lebih mudah terbuka saat menggunakan facebook dan banyak diantara mereka yang masih mengangap facebook sebagai media biasa bukan untuk membuka isi hati/diri sepenuhnya. Itu semua tergantung pada diri orang tersebut. Maka, jawaban dari Sejauh mana efektifitas Facebook terhadap proses self disclosure  Mahasiswa Universitas Paramadina? Adalah sejauh pelaku-pelaku yang terlibat dalam komunikasi itu saling membuka diri sepenuhnya terhadap teman facebooknya dan memiliki rasa saling percaya antar keduanya.

Keefektifan facebook sebagai salah satu media self disclosure sangat tergantung pada diri pengguna facebook itu. Jika mereka bisa lebih terbuka secara dua arah, percaya satu sama lain dengan teman facebooknya maka proses self disclosure yang terjadi akan sangat efektif. Sebenarnya tidak ada perbedaan mendasar proses self disclosure dengan teman facebook atau face to face yang berbeda hanya media perantaranya saja. Tujuan serta proses-prosesnya semua sama. 

Analisis Semiotic pada logo nasdem


BAB II
Landasan Teori
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah kuisioner dan kajian pustaka. Kuisioner disebarkan kepada koresponden secara random  atau acak sebanyak 10 jiwa, yang merupakan Mahasiswa Universitas Paramadina (terlampir).
 Tabel dibawah ini akan memperlihatkan intensitas responden menonton program-progam Metro TV,
Tabel I
Intensitas menonton Metro TV
Intensitas Menonton Metro TV
Total Jawaban responden
Sering
1 Responden
Jarang
Tidak Pernah
9 Responden
0
Dari tabel diatas dapat 90% responden termakasud dalam katagori jarang dalam menonton program-program acara di Metro TV. Hanya 10 persen yang sering menonton Metro TV. Dan tidak ada responden yang tidak pernah menonton Metro TV.

Metro TV merupakan salah satu media dibawah naungan Media Group selain TV media Convergence/Divergensi[1] nya adalah situs berita metrotvnews.com. Berikut adalah data tentang intensitas responden dalam mengakses situs metrotvnews.com,

Tabel II
Intensitas Mengakses Metrotvnews.com
Intensitas Mengakses Metrotvnews.com
Total Jawaban responden
Sering
1 Responden
Jarang
Tidak Pernah
5 Responden
4 Responden
Terlihat bahwa setengah(50%) responden jarang mengakses situs berita metrotvnews.com, 40%  tidak pernah sama sekali menonton situs berita metrotvnews.com, hanya  10 % persen yang mengakses metrotvnews.com dalam intensitas yang tinggi.
            Selanjutnya penulis ingin melihat intensitas para responden melihat logo Partai Nasdem diberbagai media,




Tabel III
Intensitas melihat logo partai Nasdem di berbagai media
Intensitas melihat logo partai Nasdem di Media
Total Jawaban responden
Sering
6 Responden
Jarang
Tidak Pernah
3 Responden
1 Responden
Dari tabel dapat diperhatikan bahwa lebih dari setengah (60%) responden sering melihat logo Partai Nasdem diberbagai media yang ada di Indonesia, baik Televisi, baliho, media cetak, dalam media-media lain. 30% respon jarang melihat logo Partai Nasdem di media massa, sedangkan yang tidak pernah melihat Logo Partai Nasdem di media ada 10% dari responden. Secara kasar dapat dilihat bahwa logo Partai Nasdem sudah familiar bagi sebagian besar responden karena mereka sering melihatnya diberbagai media yang ada.
Berikut penulis ingin memperlihatkan pengetahuan/daya ingat responden terhadap unsur warna pada logo Metro TV,
Tabel IV
Mengetahui warna logo Metro TV memiliki unsur biru
Mengetahui warna logo Metro TV memiliki unsur biru
Total Jawaban responden
Setuju
9 Responden
Ragu-ragu
Tidak Setuju
1 Responden
0
Hampir seluruh responden(90%) mengetahui bahwa dalam logo Metro TV terdapat unsur warna biru. Tidak ada diantara mereka yang tidak tahu fakta ini, meskipun demikian terdapat 10% dari responden yang masih ragu-ragu tentang unsur warna biru dalam logo Metro TV. Selain data diatas terdapat pula data tentang daya ingat responden terhadap logo Metro TV yaitu sebagai berikut :
Tabel V
Mengetahui warna logo Metro TV memiliki unsur kuning
Mengetahui warna logo Metro TV memiliki unsur kuning
Total Jawaban responden
Setuju
4 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
4 Responden
2 Responden
Dapat dilihat dari data diatas bahwa variasi jawaban responden sangat tinggi. Terdapat 40% yang mengetahui bahwa Metro TV terdapat logo yang memiliki unsur kuning. Sebanyak 40% diantara mereka masih ragu-ragu tentang warna kuning pada logo Metro TV. Terdapat 20% responden yang sama sekali tidak mengetahui bahwa Metro TV memiliki unsur kuning dalam warna logonya. Analisis sederhana dari data ini bahwa terdapat korelasi antara responden yang pernah menonton program-program Metro TV dengan daya ingat mereka akan unsur warna pada logo Metro TV. Warna biru lebih di ingat oleh responden karena memang warna biru  warna yang paling dominan pada logo Metro TV. Meskipun demikian juga terdapat responden yang mengingat adanya unsur kuning pada logo Metro TV. Untuk lebih jelas perhatikan gambar logo Metro TV dibawah ini.




    

Gambar 1 : logo Metro TV
Selanjutnya kita penulis akan memamparkan pengetahuan/daya ingat responden terhadap logo Partai Nasdem. Berikut adalah datanya,
Tabel VI
Mengetahui warna logo Partai Nasdem memiliki unsur biru
Mengetahui warna logo Partai Nasdem memiliki unsur biru
Total Jawaban responden
Setuju
9 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
1 Responden
0
Dari data diatas diketahui bahwa hampir seluruh(90%) responden tahu bahwa pada logo Partai Nasdem terdapat unsur warna biru. 10% diantara mereka merasa ragu-ragu jika logo Partai Nasdem terdapat unsur warna biru. Dan tidak ada responden yang tidak mengetahui sama sekali bahwa Partai Nasdem memiliki logo yang berwarna biru. Seperti halnya logo Metro TV, logo Partai Nasdem juga terdapat unsur kuningnya. Berikut pengetahuan/daya ingat responden tentang logo Partai Nasdem yang memiliki unsur kuning,
Tabel VII
Mengetahui warna logo Partai Nasdem memiliki unsur kuning
Mengetahui warna logo Partai Nasdem memiliki unsur kuning
Total Jawaban responden
Setuju
9 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
1 Responden
0
Dari data di atas diketahui bahwa 90% responden mengetahui bahwa logo partai nasdem terdapat unsur kuning. 10% persen dari responden merasa ragu-ragu tentang unsur warna kuning pada logo Partai Nasdem. Dan sejalan dengan data sebelumnya, tidak ada responden yang tidak mengetahui bahwa adanya unsur kuning pada logo Partai Nasdem.
Menurut analisis sederhana penulis, bahwa tingkat pengetahuan/daya ingat responden terhadap unsur Biru dan kuning pada logo Partai Nasdem karena kedua unsur warna tersebut sangat dominan. Untuk lebih jelas perhatikan gambar dibawah ini.





      
           Gambar 2 : Logo Partai Nasdem
Berikutnya kita akan mengurucutkan pembahasan kita pada pengetahuan responden terhadap logo partai Nasdem berasal dari aktifitas mereka menonton Metro TV. Berikut adalah data tentang pengetahuan responden terhadap logo Partai Nasdem melalui Metro TV,
Tabel VIII
Mengetahui warga logo Partai Nasdem setelah menonton Metro TV
Mengetahui warga logo Partai Nasdem setelah menonton Metro TV
Total Jawaban responden
Setuju
6 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
2 Responden
2 Responden
Jika diperhatikan terlihat jelas bahwa ada 60% responden yang mengetahui logo Partai Nasdem setelah menonton acara di Metro TV. Terdapat 20% responden yang menjawab ragu-ragu, dan 20% lainnya tidak pernah melihat logo Partai Nasdem di Metro TV.
Setalah menyajikan berbagai data yang sesuai dari kedua objek diatas, maka saatnya untuk menilai tingkat kesadaran responden tentang kesamaan unsur warna pada logo Metro TV. Data-datanya sebagai berikut :
Tabel IX
Ada kesamaan warna logo Metro TV dan Partai Nasdem
Ada kesamaan warna logo Metro TV dan Partai Nasdem
Total Jawaban responden
Setuju
4 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
6 Responden
0
Data diatas menunjukan terdapat 40% responden yang setuju adanya kesamaan unsur warna papa logo Metro TV dan Logo Partai Nasdem. Lebih dari setengah merasa ragu akan adanya kesamaan unsur tersebut. Dan tidak ada satupun responden yang tidak mengetahui sama sekali tentang kesamaan unsur tersebut.
Meskipun ada responden yang masih terkesan ragu-ragu akan kesamaan unsur warna logo Metro TV dan Partai Nasdem namun ada sekitar 40% responden yang satuju. 40% responden yang setuju ini menganggap bahwa unsur warna yaitu biru dan kuning pada logo Metro TV dan Partai Nasdem terdapat kesamaan. Untuk lebih jelasnya perhatikan kedua gambar dibawah ini.



                Gambar 1 : logo Metro TV                             Gambar 2 : Logo Partai Nasdem
Data terakhir yang akan penulis peparkan akan menilai sejauh mana kesamaan logo dengan Metro TV mempengahui kepopuleran Partai Nasdem. Berikut adalah datanya jawaban dari responden,
Tabel X
Familiar dengan warna logo Partai Nasdem karena sering melihat logo Metro TV
Familiar dengan warna logo Partai Nasdem karena sering melihat logo Metro TV
Total Jawaban responden
Setuju
4 Responden
Ragu-ragu
Tidak setuju
4 Responden
2 Responden
Terdapat 40% responden merasa familiar dengan logo Partai Nasdem karena sering melihat logo Metro TV. Sejalan dengan itu, juga terdapat 40% responden yang merasa ragu-ragu, dan 20% sisanya tidak  memikirkan hal demikian.



BAB III
Pembahasan
          Sebagian besar responden jarang menonton program-program acara di Metro TV. Hanya sedikit Responden yang sering menonton Metro TV. Itu artinya hampir seluruh responden temaksud dalam katagori jarang menonton Metro TV.Terdapat 10% responden yang selain sering menonton Metro TV juga sering mengakses situs berita metrotvnews.com yang merupakan media convergensi Metro TV. Terdapat 40% responden yang pernah mengakses situs berita metrotvnews.com, dan 50% responden lainya tidak pernah sama sekali mengakses situs tersebut. Dari data tersebut dapat dipelajari bahwa responden termaksud golongan mahasiswa paham tentang Metro TV namun jarang menonton dan berhubungan dengan media tersebut.
          Beralih pada pengetahuan para responden terhadap logo Partai Nasdem. lebih setengah sebagian besar responden pernah melihat adanya logo Partai Nasdem diberbagai media yang di Indonesia, baik di televisi, baliho, media cetak dan media-media lain. Hanya sebagian kecil dari responden yang tidak pernah atau jarang melihat logo Partai Nasdem dimedia.
          Jika di analisis dari segi daya ingat/pengetahuan responden terhadap logo Metro TV dan Logo Partai Nasdem sebagian besar responden mengingat logo keduanya. Hampir seluruh responden mengingat bahwa ada unsur biru dalam logo Metro TV. Meskipun pada unsur kuning di logo Metro TV tidak banyak responden yang dapat mengingatnya berhubung unsur kuning di logo Metro TV proporsinya tidak banyak, hanya sedikit ada di bagian gambar elangnya seperti pada gambar 1 diatas. Untuk logo Partai Nasdem, hampir seluruh responden mengingat bahwa dalam logo Partai Nasdem terdapat unsur biru unsur kuning. Ingatan seluruh responden dalam unsur warna Partai Nasdem ini karena kedua warna pada logo Partai Nasdem memili proporsi yang sama-sama besar. Perhatikan gambar 2.
          Metro TV sering menyiarkan berita atau iklan tentang Partai Nasdem. Dan dari data kuisioner penulis mendapatkan gambaran nyata bahwa lebih dari separuh jumlah responden mengetahui bentuk, warna , logo Partai Nasdem dari Metro TV. Hal ini menjadi sebuah keberhasilan Metro TV mengiklankan Partai Nasdem di stasiun tvnya. Meskipun banyak diantara para responden yag pernah melihat logo Metro TV dan logo Partai Nasdem, namun tidak semua dari mereka menyadari sepenuhnya ada kesamaan diantara kedua logo itu. Menurut hasil dari wawancara tambahan penulis dengan responden yang tidak menyadari adanya kesamaan itu dikehui bahwa selama ini mereka tidak terlalu memperhatikan hal itu.
          Menurut data dari kuisioner hampir setengah responden mengatakan bahwa mereka merasa familiar dengan logo Partai Nasdem karena mereka sering melihat logo Metro TV. Hal ini dukung oleh samanya data diantara responden yang menyadari kesamaan kedua logo itu dengan yang merasa familiar dengan logo Partai Nasdem karena sering melihat logo Metro TV.
          Disadari atau tidak adanya kesamaan logo ini membuat hampir sebagian responden merasa familiar dengan logo Partai Nasdem. Apakah kesamaan ini merupakan suatu kesengajaan pihak Partai Nasdem untuk menjadikan partainya menjadi terkenal? Apakah dibalik kesamaan itu Partai Nasdem mempunyai ideologi-ideologi tertentu untuk mengarahkan perhatian publik di Metro TV kepada Partainya. Meskipun tidak banyak yang menyadari hal ini, namun penulis merasa ini merupakan hal yang patut dipertanyakan. Kenapa seakan pihak Nasdem ingin menjadikan


[1] Media lain yang berafiliasi dengan suatu media tertentu kerena masih dalam satu group perusahaan